Tier sebuah data center menentukan seberapa lama fasilitas itu boleh padam dalam setahun, dan seberapa besar investasi infrastruktur di belakangnya. Sebagian besar data center baru di koridor Jakarta, Bekasi dan Karawang dirancang untuk Tier III, dan beberapa menargetkan Tier IV.
Artikel ini menjelaskan perbedaan data center tier 3 dan tier 4, cara Uptime Institute menilainya, serta satu hal yang sering terlupa saat perencanaan: cadangan air untuk sistem pendingin.
Apa itu tier data center?
Sistem tier dibuat oleh Uptime Institute untuk mengelompokkan data center (pusat data) berdasarkan ketahanan infrastrukturnya. Ada empat tingkat, dari Tier I sampai Tier IV. Semakin tinggi tier-nya, semakin sedikit kondisi yang bisa membuat fasilitas berhenti beroperasi.
Sertifikasi Uptime diberikan secara bertahap: untuk dokumen desain, untuk fasilitas yang sudah dibangun, dan untuk keberlanjutan operasional. Perlu dicatat, “tier 5” bukan klasifikasi resmi Uptime Institute. Istilah itu hanya dipakai beberapa penyedia untuk pemasaran.
Tier 1 sampai Tier 4 secara singkat
| Tier | Sebutan Uptime | Redundansi umum | Target ketersediaan | Downtime maks. per tahun |
| Tier I | Basic Capacity | N (tanpa cadangan) | 99,671% | sekitar 28,8 jam |
| Tier II | Redundant Capacity Components | N+1 untuk komponen | 99,741% | sekitar 22 jam |
| Tier III | Concurrently Maintainable | N+1, jalur distribusi ganda | 99,982% | sekitar 1,6 jam |
| Tier IV | Fault Tolerant | 2N atau 2N+1 | 99,995% | sekitar 26 menit |
Persentase di atas adalah angka yang umum dipakai industri. Uptime Institute sendiri menilai topologi dan desain fasilitas, bukan menjanjikan persentase uptime tertentu.
Data center tier 3: concurrently maintainable
Menurut Uptime Institute, Tier III berarti setiap komponen kapasitas bisa dimatikan secara terencana tanpa mengganggu lingkungan kritis atau proses IT. Contohnya, satu chiller, satu genset atau satu pompa bisa diservis sementara data center tetap berjalan normal.
Untuk mencapainya, Tier III membutuhkan komponen cadangan (biasanya N+1) dan lebih dari satu jalur distribusi listrik dan air dingin. Karena itulah Tier III menjadi standar paling umum untuk colocation dan data center hyperscale di Indonesia.
Data center tier 4: fault tolerant
Tier IV melangkah lebih jauh. Setiap komponen kapasitas dan setiap jalur distribusi harus bisa mengalami kegagalan, kesalahan atau kejadian tak terduga tanpa berdampak pada lingkungan kritis.
Dalam praktiknya, Tier IV membutuhkan sistem yang terpisah secara fisik (compartmentalization), sehingga kebakaran atau kebocoran di satu ruang tidak menjatuhkan sistem cadangannya. Pendinginan juga harus kontinu, termasuk saat terjadi pergantian ke daya cadangan.
Perbedaan utama Tier 3 dan Tier 4
| Aspek | Tier III | Tier IV |
| Pemeliharaan terencana | Tanpa downtime | Tanpa downtime |
| Kegagalan tak terduga | Bisa menyebabkan downtime | Tidak boleh menyebabkan downtime |
| Jalur distribusi | Minimal dua, satu aktif sudah cukup | Minimal dua, keduanya aktif |
| Pemisahan fisik sistem | Tidak diwajibkan | Diwajibkan |
| Pendinginan kontinu | Tidak diwajibkan | Diwajibkan |
| Biaya pembangunan | Tinggi | Jauh lebih tinggi |
Kebutuhan air: bagian yang sering terlupa
Banyak data center besar memakai chiller berpendingin air dengan cooling tower. Cooling tower membuang panas dengan menguapkan air, sehingga air harus terus ditambahkan (make-up water). Jika pasokan air dari PDAM atau sumur terhenti, pendinginan berhenti, dan server harus dimatikan dalam hitungan menit.
Karena itu, referensi industri tentang Tier Standard Uptime menyebut cadangan make-up water di lokasi selama 12 jam untuk sistem pendingin evaporatif. Pada Tier III, cadangan ini juga harus concurrently maintainable: satu tangki bisa dikuras dan dibersihkan tanpa cadangan turun di bawah 12 jam. Pada Tier IV, kegagalan satu tangki atau satu jalur pipa tidak boleh mengganggu pasokan sama sekali.
Detail persyaratan bisa berbeda per proyek, jadi selalu rujuk dokumen Tier Standard terbaru dan konsultan MEP Anda. Cara menghitung volumenya kami bahas di artikel Berapa Banyak Air yang Dibutuhkan Data Center? (link: /blog/kebutuhan-air-data-center).
Konfigurasi tangki air untuk Tier III dan Tier IV
- Tier III: umumnya dua tangki masing-masing 100% kapasitas (2 x 100%), atau tiga tangki masing-masing 50% (3 x 50%). Dengan begitu satu tangki selalu bisa diservis.
- Tier IV: konfigurasi serupa, ditambah pemisahan fisik. Tangki, pompa dan pipa ditempatkan di area terpisah dengan jalur distribusi yang independen.
- Air pemadam kebakaran: biasanya disimpan terpisah dari make-up water pendingin, sesuai ketentuan proteksi kebakaran yang berlaku.
Jenis tangki yang tepat bergantung pada volume. Tangki GFS (Glass Fused to Steel) dan bolted steel cocok untuk volume ratusan sampai ribuan meter kubik. Tangki panel FRP cocok untuk volume lebih kecil dan instalasi modular di dalam gedung.
Tier 3 atau Tier 4, mana yang dibutuhkan?
Tier III sudah memenuhi kebutuhan sebagian besar penyewa colocation, cloud dan enterprise. Tier IV biasanya dipilih untuk layanan yang tidak menoleransi gangguan sama sekali, seperti sistem keuangan inti. Apa pun tier-nya, cadangan air pendingin yang dirancang dengan benar adalah bagian dari ketahanan fasilitas.
Merencanakan cadangan air untuk data center Anda?
PT Tiger Water Solutions memproduksi tangki GFS, bolted steel dan panel FRP di pabrik kami di Cikarang, dekat kawasan data center Bekasi dan Karawang. Kirimkan data beban pendinginan atau gambar proyek Anda, dan tim kami akan menyiapkan rekomendasi ukuran serta konfigurasi tangki tanpa biaya.

