Sistem Pendingin Data Center: CRAC, CRAH, Chiller dan Cooling Tower

Sistem Pendingin Data Center: CRAC, CRAH, Chiller dan Cooling Tower

Hampir semua listrik yang masuk ke server berubah menjadi panas. Sistem pendingin data center bertugas membuang panas itu dari ruang server ke luar gedung, tanpa henti, 24 jam sehari. Artikel ini menjelaskan komponen utamanya, dari unit di ruang server sampai cooling tower di atap, dan di mana air berperan.

Rantai pendinginan data center

Panas berpindah melalui beberapa tahap:

  1. Server memanaskan udara di ruang data (white space).
  2. Unit CRAC atau CRAH menyerap panas dari udara itu.
  3. Pada sistem CRAH, panas dibawa oleh air dingin (chilled water) ke chiller.
  4. Chiller membuang panas ke luar, lewat kondensor berpendingin udara atau lewat cooling tower.
  5. Cooling tower melepaskan panas ke atmosfer dengan menguapkan air.

Beda CRAC dan CRAH

AspekCRAC (Computer Room Air Conditioner)CRAH (Computer Room Air Handler)
Cara kerjaKompresor dan refrigeran di dalam unit (ekspansi langsung)Kipas dan koil yang dialiri air dingin dari chiller
Skala umumRuang server kecil sampai menengahData center menengah sampai hyperscale
EfisiensiLebih rendah pada skala besarLebih tinggi pada skala besar
Kebutuhan airTidak adaTidak langsung; bergantung pada jenis chiller

Chiller air-cooled vs water-cooled

Chiller air-cooled membuang panas langsung ke udara lewat kipas kondensor. Sistem ini hampir tidak memakai air, tetapi efisiensinya turun saat udara luar panas, seperti di iklim tropis Indonesia.

Chiller water-cooled membuang panas ke air kondensor, yang kemudian didinginkan di cooling tower. Sistem ini lebih hemat listrik, sehingga banyak dipilih untuk data center besar. Konsekuensinya, fasilitas membutuhkan pasokan make-up water yang terus-menerus.

Cooling tower dan make-up water

Cooling tower mendinginkan air dengan menguapkan sebagian kecilnya. Air yang menguap, ditambah air yang dibuang (blowdown) untuk mengendalikan mineral, harus terus diganti. Untuk data center 10 MW, kebutuhannya bisa sekitar 24 m³ per jam (lihat perhitungan di Berapa Banyak Air yang Dibutuhkan Data Center? (link: /blog/kebutuhan-air-data-center)).

Cooling tower hibrida menggabungkan pendinginan kering dan basah. Pada cuaca sejuk bekerja lebih kering, sehingga pemakaian air turun. Digital Edge, misalnya, memakai chiller water-cooled dengan cooling tower hibrida di kampus CGK mereka di Cikarang.

Liquid cooling untuk server AI

Server AI menghasilkan panas jauh lebih besar per rak. Karena itu liquid cooling (direct-to-chip) semakin umum: cairan pendingin dialirkan langsung ke pelat di atas prosesor. Kampus CGK4 milik BDx di Jawa Barat, misalnya, dirancang untuk hingga 500 kW per rak dengan direct-to-chip liquid cooling.

Liquid cooling tidak menghilangkan kebutuhan pembuangan panas. Panasnya tetap harus dibuang ke luar gedung, sering kali lewat cooling tower atau dry cooler.

Di mana tangki air berperan

  • Cadangan make-up water. Umumnya untuk 12 jam pada data center Tier III dan Tier IV, dalam beberapa tangki agar satu bisa diservis.
  • Tangki thermal storage. Menyimpan air dingin agar pendinginan tetap berjalan beberapa menit saat chiller restart setelah gangguan listrik.
  • Tangki air pemadam kebakaran. Terpisah dari sistem pendingin.
  • Penampungan air hujan dan air daur ulang. Untuk menurunkan pemakaian air bersih.

Butuh tangki untuk sistem pendingin data center?

PT Tiger Water Solutions memproduksi tangki GFS, bolted steel dan panel FRP untuk cadangan make-up water, air pemadam dan air daur ulang, serta sistem pengolahan air (WTP). Pabrik kami di Cikarang melayani proyek data center di Bekasi, Karawang dan sekitarnya.